Gratis Disayang, Bayar Dilupakan?
Posted in Online Business on August 23st, 2008 | (11) Comments
Anda menyediakan layanan gratis dan mempunyai banyak penggemar tetapi kemudian lambat laun meninggalkan Anda karena harus membayar untuk menikmati (menggunakan) layanan Anda? Mungkin Anda yang berkecimpung di dunia bisnis online, baik iklan baris, informasi lowongan kerja atau link directory pernah mengalaminya.
Postingan ini sebagai feedback atas tulisan mas Ivan Sielegar yang membahas tentang strategi layanan gratis dan berbayar.
Setahun yang lalu, saya membuat direktori eksportir furniture Indonesia, dan ini gratis tentunya. Ada beberapa alasan kenapa saya memilih untuk memberikan layanan gratis:
- Banyak eksportir yang tidak memiliki dana yang cukup untuk membeli link dari paid link directory.
Walaupun besarannya mungkin kurang dari Rp 1 juta per tahun, masih banyak yang belum merasa perlu membeli link dari direktori. Ini tugas besar bagi para penyedia jasa layanan promosi (web submission) untuk mengedukasi pasar. - Mendukung SBU (Strategic Business Unit) saya di bidang web development.
Memiliki direktori dengan niche tertentu memudahkan saya dalam menggarap dan menawarkan jasa web development. Alhamdulillah memang ada klien yang bisa saya peroleh dari situ dengan nominal transaksi yang lumayan untuk modal awal web di bawah 200rb per tahun. - Relasi, relasi dan relasi.
Dengan mengelola situs direktori tentunya saya banyak mendapatkan kenalan yang pada akhirnya bisa meningkatkan bisnis yang saya jalani. - Kalau bisa gratis kenapa musti bayar
Saat ini situs direktori eksportir furniture sedang digarap ulang agar menjadi web dengan content yang “user generated“. Tunggu saja.. ![]()
Saya juga mengelola situs lowongan kerja yang belum berbayar. Tetapi karena akan saya jadikan SBU, tentunya akan menjadi berbayar, mengingat trafiknya juga lumayan.
Lantas apakah behaviour user Indonesia seperti itu (maunya gratisan melulu)?
Saya suka yang gratis-gratis. Anda juga kan?
Dalam suatu kesempatan, saya berdiskusi dengan Ir. Tonton Taufik dari RattanLand. Beliau juga mengelola situs direktori eksportir dan importir Indonesia (EII), selain beberapa situs direktori lainnya. Dari pengalaman beliau mengelola EII, setelah masa trial 3 bulan, banyak anggota yang tidak mengupgrade membershipnya, dari gratis menjadi berbayar. Tentu saja sebagian besar adalah member Indonesia. Padahal jika dicermati, trafik di situs EII dan PageRank-nya juga lumayan, tetapi mengapa fenomena ini terjadi? Suka barang gratisankah?
Itulah kenapa EII mempunyai blog yang banyak melakukan kampanye penggunaan internet sebagai tool untuk marketing. Intinya adalah mengedukasi masyarakat, bahwa dengan berbayar tentu ada benefit yang diperoleh.
Apakah lantas semua layanan harus berbayar?
Silahkan simak perhitungan dan analisa dari mas Ivan di sini. Sangat menginspirasi saya, karena jika dilihat konversinya kan lumayan tuh
(Rp 100 x 1 juta)..
Kesimpulannya?
Jika Anda sudah membaca pemaparan mas Ivan, tentunya akan bisa mengambil langkah strategis untuk menggarap bisnis seputar baris-berbaris iklan baris dan sejenisnya. Berbayar atau gratis tentunya ada value yang membedakan di keduanya. Nah, di value mana Anda memperoleh benefit lebih tinggi?
Saya tunggu sharingnya.
Popularity: 21% [?]




Jika ada yang gratis-legal-kualitas bagus, mengapa harus mengeluarkan sejumlah dana untuk selisih kualitas yang tidak terlalu banyak? Konsumen terus berusaha untuk menekan pengeluaran, produsen terus menginginkan kenaikan harga produknya selain untuk mendapatkan keuntungan lebih besar, juga adanya tuntutan biaya produksi yang terus meningkat. Sepertinya memang susah untuk dipertemukan.
[...] gratis dan berbayar, ternyata mendapatkan tanggapan unik (dan sekaligus perkerjaan rumah) dari Pak Arief yang kebetulan juga mengelola beberapa situs seperti lowongan kerja dan direktori ekportir [...]
Antara yang berbayar dan gratis memang punya kelebihan dan kekurangan, tapi jika ingin cepat masuk dan mempunyai efek positif lebih baik berinvestasi untuk mendaftarkan yang berbayar. Perlu waktu berbulan – bulan untuk mendapatkan feedback dan effort yang jauh lebih besar dibandingkan yang berbayar.
makasih atas tulisan-nya.
telah meng inspirasi saya
sekali lagi makasih dan moga makin sukses buat anda
solusinya mungkin tetap ada yg gratis, kalo yang berbayar fasilitas lebih lengkap, ada nilai lebihnya, jadi orang bisa memilih yang gratis stau berbayar.
Wah mumet juga yah, mendingan ya di optimalkan dlu yg gratis, kalau udah ada dana lebih bru nyari yg berbyar, tpi dg kualitas layanan yg lbih baik dri gratis
mang apa hubunganya Business and u, g ada hubugan,,,, cita citamu opo…
wah sy tertarik dgn analoginya. sy setju bila kita fokus pd segmen pasar tertentu maka kita bisa mengembangkan relasi dibidang itu. Kebetulan sy juga seorang web developer dan dengan membaca artikel ini sy jadi terinspirasi membuat website serupa
thanks!
btw, website yg termasuk bertrafffik lumayan itu seberapa yah…maksudnya unique visitor dan pageviewnya ?
Tapi saya tetep bingung
yang gratis kuwalitasnya belum tentu bagus
wah keknya saya harus banyk belajar neh…..
pingin ikut2an terjun ke bisnis online euy…